Network Cell Info v4.15

Network Cell Info v4.15

Requirements: Android 4.0+ | File size: 2,9 MB

Network Cell Info provides cell locations in the map and separate network signal strength gauges for the serving (registered) cell and the neighbor cell. It covers all cellular networks including LTE, HSPA+, HSPA, WCDMA, EDGE, GSM, CDMA, EVDO.


FEATURES:
· Almost Real-Time (1 sec.) monitoring of cellular and WiFi signals, in Gauge/Raw Tabs (*)
· GSM, CDMA, UMTS (WCDMA), IWLAN, LTE, LTE+ support
· Dual SIM support (*)
· 5/6 Signal-meter gauges for both SIMs and WiFi (*)
· Signal Plots, up to 6 cells
· EARFCN, Carrier Frequency (Fc), Band number/name show (Logs only in PRO) (**)
· SIM# preference option, for other than Gauge tab
· Map with network cellular info and signal-meter gauges
· Logs, Measurements of cellular signals (in the Map tab)
· Indication of cell locations (not cell towers) in the Map, from Mozilla Location Service (MLS), excl. cdma (*)
· Route coloring (in the Map) according to the signal strength, and map markers with location and signal info
· Measurements in Background
· Measurements settings (minimum distance, minimum accuracy, motion sensor, etc.)
· Database export measurements in KML 2.2, MLS Geosubmit v.2, CLF v.3, OpenCellID csv, CMWF database types
· Network information in Status Bar
· Sound notifications (on system, cell id changes)
· Raw view of network cellular info
· Connection statistics (2G/2.5G/3G/3.5G/4G/4G+)
· SIM and device info
· Screen rotation

PHONE ISSUES:
· Please check here for current issues, especially for Samsung devices: http://goo.gl/Hy0dx5 . Please feel free to email us any issue.

GPS:
· It is recommended to set the GPS mode to “high accuracy” in the location settings of your device.

MAP CELL TOWER LOCATION:
· We don’t have own database for cell locations. We use currently the MLS database (please see below) which returns not the actual cell tower location, but roughly an indication of the cell locations.

MLS:
· The LTE, UMTS and GSM cell locations we get from Mozilla Location Service (MLS) – http://location.services.mozilla.com – and show in the map as antennas, are not real tower locations, but roughly an indication of the cell locations (if no cell location is shown in the map, it means MLS has no data for your cell).
· MLS doesn’t support CDMA any more.
· If the app doesn’t return cell locations, or if you want to contribute/update the cell locations, you may use Mozilla Stumbler app ( https://goo.gl/sysSNQ ) to update the MLS database in your area.

MEASUREMENTS’ DATABASES:
· The measurements you make in the MAP tab, can be saved locally in your device (please see FAQ inside the app for details) in one of the following 4 formats: CMWF v.1 (our own), OpenCellID csv, CLF v.3 and our legacy one.

DOWNLOAD: https://s.id/25BeK

Iklan

Pelajaran Berharga dari Toko Barang Bekas di Australia

Tingginya biaya hidup di Australia membuat banyak mahasiswa plus ibu rumah tangga dengan anak balita seperti saya harus pintar-pintar mengatur pengeluaran uang.

Berdasarkan laman website ini, harga-harga seperti makanan restoran dan sewa rumah di Australia 300% lebih tinggi dari Jakarta. Ditambah lagi, kebutuhan sehari-hari harganya juga berkali lipat dari di Jakarta. Mudah sekali bikin bangkrut jika tidak berhati-hati mengeluarkan uang.
Toko bekas memang bukan sesuatu yang baru. Di Jakarta saya pernah mendatangi toko buku bekas di Kwitang, pasar barang bekas di Poncol, atau toko antik di jalan Surabaya, yang katanya cukup didatangi banyak turis. Terus terang, tidak ada di antaranya yang berkesan.
Hal berbeda saya temukan di Melbourne, Australia. Toko barang bekas di Melbourne memberikan banyak pembelajaran. Bukan hanya sekedar untuk mendapatkan barang dengan harga murah. Lebih dari itu.
Apa saja yang pembelajaran yang di dapat dari toko bekas (Opportunity Shop disingkat menjadi Op Shop)?
1. Meluangkan waktu untuk membangun komunitas
Pegawai yang pada umumnya adalah lansia menggunakan waktu luangnya untuk menjadi sukarelawan di berbagai Op Shop di Australia. Kebanyakan dari mereka menjadi sukarelawan kurang lebih empat jam sehari tanpa dibayar satu sen pun.
Dari beberapa ‘nenek atau kakek’ (asumsi saya mereka di atas 70 tahun) yang pernah berbicara dengan saya, mereka mengutarakan merasa senang saat menjadi sukarelawan.

Beberapa manfaat yang mereka peroleh, antara lain bisa menambah teman, berbagi pengalaman dengan teman sukarelawan lain, belajar tentang proses retail seperti toko pada umumnya, dan juga berkontibusi untuk berdonasi dari hasil jualannya.

Hasil-hasil penjualan barang bekas ini pun kemudian disalurkan ke berbagai tempat, seperti rehabilitasi orang untuk berhenti dari narkoba dan alkohol, para tunawisma, korban kekerasan yang banyak dialami wanita dan anak-anak, keluarga dan pensiunan tantara dan pemberian keterampilan untuk difabel, dan masih banyak lagi.

Dengan menjadi sukarelawan di Op Shop, ada rasa memiliki dan kontribusi kepada komunitasnya, dan itu bernilai sangat tinggi.
(Foto pribadi dengan izin untuk publikasi)
2. Belajar menyayangi barang yang sudah dimiliki untuk membantu orang lain
Tidak ada hentinya saya membayangkan berapa ratus dolar yang bisa saya hemat ketika memilih untuk berbelanja di Op Shop. Barang yang dijual bukanlah barang yang sudah rusak, tapi barang yang masih tersimpan rapi, bersih, dan tentunya layak pakai.
Favorit saya adalah membeli buku anak dan buku untuk saya. Buku-buku di Op Shop sangatlah banyak dan bagus-bagus. Murahnya buku dengan harga mulai 50 sen sampai sekitar $3 dengan pilihan yang beragam, membuat akses membaca dan memiliki pengetahuan baru semakin mudah.
Betapa kagetnya saya ketika membeli buku anak dengan tulisan tahun dari sebelum saya lahir namun masih bagus sekali dan layak dibaca. Begitu juga dengan mainan. Mainan masih sangat tersimpan rapi dan layak pakai dengan harga mulai $1. Dengan berdonasi, bisa membuat anak-anak, apalagi orang tuanya yang bisa banyak menghemat.
(Salah satu notes di buku anak yang saya beli di toko bekas, bukunya lebih tua daripada saya!)
3. Menggunakan ulang barang bekas terbukti ikut membantu melestarikan lingkungan
Kampanye reduce,reuse,recycle untuk melestarikan flora dan fauna sangat terasa di Australia. Dimulai dari ketatnya pemeriksaan di bandara saat memasuki kota-kota di Australia, larangan memberikan makanan manusia seperti roti kepada hewan liar di tempat umum, membawa sampah pulang ke rumah, dan berbagai macam lainnya.
Tentu saja recycle atau daur ulang bukan lagi hal asing yang terdengar di mana-mana termasuk sekolah-sekolah sekalipun. Membeli barang di Op Shop artinya ikut mengurangi penggunaan material baru atau bahan kimia lainnya. Sebagai contoh, dengan membeli mainan anak di Op Shop artinya kita mengurangi penggunaan plastik baru yang dijadikan sebagai material mainan tersebut. Begitu juga buku dan barang-barang lainnya.
Toko barang bekas di Jakarta mungkin tidak senyaman dan tidak memiliki misi sebesar toko bekas di Australia. Namun, di bulan Ramadan seperti sekarang, kita juga bisa mulai belajar berdonasi pada orang-orang membutuhkan.
Jika berdonasi sudah terbiasa dilakukan di suatu komunitas, maka tidak perlu toko bekas yang nyaman dan ber-AC untuk dapat berkontribusi pada society. Sebab, menyayangi dan menjaga barang-barang untuk didonasikan juga melestarikan lingkungan.

 

Sisi Lain Kehidupan Sebagai Ibu Rumah Tangga

Di artikel pertama, saya bercerita bagaimana saya melihat perbedaan parenting style Australia dan tanah air, Indonesia. Ketika menulis artikel itu, membuat saya flashback 6 tahun lalu kala saya memulai parenting journey sebagai seorang ibu. Ketika akan melahirkan anak pertama, saya (didukung suami tentunya) memutuskan untuk berhenti bekerja full time dan menjadi stay-at-home-mom¬ alias ibu rumah tangga yang ‘di rumah aja’.
Saya pernah membaca beberapa cerita bagaimana sedihnya ibu bekerja (working moms) yang meninggalkan anaknya yang masih kecil di pagi-pagi buta dan pulang di malam gelap gulita, ataupun Ibu rumah tangga (stay-at-home-moms) yang di rumah mengurus anak saja dan merasa ‘tertekan’ dan juga dicibir karena merasa tidak ‘sehebat’ teman-teman perempuannya yang bekerja dan berkarir seperti pengalaman ibu yang dibahas di laman ini. Begitulah, rumput tetangga selalu lebih hijau, bukan?
Setelah banyak membaca ini-itu, saya sadar bahwa yang membuat saya sebagai salah satu stay-at-home-moms merasa ‘frustasi’ pada awalnya bukanlah hanya ingin Adult Conversation atau berkarir di perkantoran, tapi merasa diri yang tidak punya Self-Actualization, alias merasa diri tidak update dengan apapun. Lalu, kenapa akhirnya saya memutuskan untuk kembali berkuliah? Berikut sedikit sharing bagaimana akhirnya memutuskan untuk sementara meninggalkan Indonesia dan berkuliah kembali.
1. Kembali Belajar Bahasa Inggris.
Menurut kacamata saya, dengan belajar bahasa asing seperti bahasa Inggris, semakin banyak buku yang bisa dibaca, semakin banyak orang yang bisa diajak berbicara, semakin banyak ilmu yang bisa diserap, dan semakin banyak kesempatan yang bisa digapai. Itu salah satu yang selalu saya ingat ketika saya memutuskan belajar bahasa Inggris lagi.
Tentu saja berbekal pelajaran bahasa Inggris dari SD-SMA tidak cukup untuk saya menyelesaikan online course dari Stanford University melalui Coursera gratis dari rumah (keren kan ibu yang di rumah saja, dasteran, bisa dapat belajar dari professor universitas kelas dunia).
Saya mulai dari yang basic dari sumber seperti BBC English dan memaksakan membaca artikel tentang parenting dalam bahasa Inggris. Alhasil, ketika mengambil tes IELTS, saya mendapat nilai tinggi dalam reading karena tidak disadari saya sudah terbiasa membaca sumber berbahasa Inggris
2. Mencari Inspirasi
Tentu saja inspirasi bisa dari mana saja. Nenek, tante, orang tua, suami, mertua, kakak dan adik, teman bahkan anak-anak saya menjadi sumber inspirasi saya. Tetapi, ketika saya sudah mulai terbiasa dengan bahasa Inggris, semakin banyak kesempatan saya untuk mendapatkan inspirasi terutama dari orang-orang yang jauh di sana.
Contohnya, saya mendapatkan inspirasi dari Jamie Oliver bagaimana pentingnya anak belajar makan makanan sehat, bagaimana cara me- manage waktu dari beberapa pembicara TED seperti salah satunya Laura Vanderkam, beberapa buku dan blogger tentang parenting seperti Alice Callahan, Gwen Dewar, dan Dr. Laura Markham dan masih banyak lainnya. Membaca tentang bagaimana mereka berpendapat dan belajar, membuat saya terinspirasi dan merasa memiliki kesempatan untuk meng-update diri sendiri. I feel challenged and inspired.
3. Membuat Keputusan
Ketika akhirnya banyak ‘bersemedi’ saya akhirnya memutuskan untuk kembali sekolah karena itulah yang ternyata membuat saya bisa to live life to the fullest. Konsep lifelong learning membuat saya merasa lebih utuh bukan hanya sebagai ibu tapi juga perempuan.
Kalau ada yang bertanya, ‘belajar kan bisa di mana saja? Enggak harus kampus!’, itu betul banget. Tapi saya masih kurang disiplin untuk bisa mengatur apa yang harus saya pelajari. Institusi formal bisa membantu untuk menutup kekurangan itu. Dan masih banyak kekurangan lainnya yang saya punya. Akhirnya, berbekal pengalaman pas-pasan, saya nekad mendaftar beasiswa untuk bisa berkuliah lagi.
Keputusan ini tentu bukan sebuah akhir, tapi merupakan proses dari hidup saya, karena masih banyak masalah-masalah hidup lainnya yang membutuhkan proses sebelum membuat keputusan. Dan… jangan lupa harus diputuskan bersama – terutama bersama suami dan dua bocil (baca: anak)-. Fiuuh.. Terlebih saya harus terpisah sementara dengan suami, dan menjalankan kuliah dengan anak-anak saja.
Setiap orang punya kisah yang berbeda, situasi dan tujuan yang tidak sama. Yang penting untuk saya bukan akhirnya bagaimana, tetapi juga proses yang saya nikmati. I just think the quality of my life has greatly improved and I feel happy.
Moral story untuk saya: Jangan sekali-kali membandingkan dengan orang lain, jika iya, yang ada saya ‘nangis bombay’ di sini karena banyak sekali yang muda-belia dan punya achievement yang bikin saya terheran-heran. Mereka hebat banget!!!
Seperti yang professor saya tanyakan di salah satu kuliah di unit tatap muka, “How long did you take to get here?”, jawaban dan pemahaman pun bervariasi. Sebagian menjawab 1 jam, 15 menit, ada juga yang menjawab 25 tahun, 30 tahun, dan sang professor menjawab “I spent a bit over 40 years to get here.”
Apa jawabanmu? Dan apa yang membuat hidupmu lebih berwarna?

Cara Orang Tua di Australia untuk Membuat Anak Happy

Ilustrasi anak belajar dan membaca.

Saya yakin keinginan untuk memiliki anak yang happy alias bahagia hampir dimiliki oleh semua orang tua. Tapi, pernah terpikir nggak sih apa yang sebenarnya membuat anak itu bahagia? Kenapa peringkat kesejahteraan anak-anak dan tingkat happiness di negara maju jauh lebih baik dari tanah air kita?
Baru satu tahun lebih tinggal di negara yang terkenal dengan kanggurunya atau Australia, saya banyak menyadari banyak hal yang bisa dicontoh dari apa yang dilakukan oleh orang tua di sini.
Salah satu insititusi penelitian bernama The Australian Research Alliance for Children and youth (ARACY) mempublikasikan hasil perbandingan negara Australia dengan 21 negara maju anggota OECD lainnya.
Hasil data tahun 2018 menunjukkan bahwa Australia merupakan peringkat pertama dengan jumlah waktu terbanyak yang dihabiskan oleh orang tua untuk anak-anaknya. Parental time with children memang sering disebut memiliki korelatif positif dalam perkembangan dan pertumbuhan anak-anak.
Namun, buat moms atau dads yang kerja apakah serta-merta berpikir untuk resign kerja saja mengurus anak? Tentu tidak. Menurut saya, banyaknya waktu dengan orang tua bukanlah penentu satu-satunya anak menjadi happy, pertanyaan yang lebih tepat adalah Apa yang orang tua di sini lakukan sehingga membuat anak happy?
Anak dibuat haus akan pengetahuan.
Keuntungan tinggal di negara maju adalah akses yang mudah mendapatkan pengetahuan. Perpustakaan merupakan salah satu contohnya. Banyaknya aktivitas gratis anak-anak setiap minggu seperti story telling, art&craft, lego group dan aktivtas dari bayi hingga dewasa lainnya. Anak dapat meminjam buku hingga 30 jilid dalam satu waktu.
Kesadaran orang tua untuk membacakan buku anak-anaknya sangat tinggi, bahkan disediakan sertifikat bagi yang sudah membaca 1000 buku sebelum 5 tahun. Program ini ditujukan untuk mengingatkan orang tua untuk membaca di rumah. Di Indonesia, seperti yang diberitakan bahwa minat membaca masih rendah dikarenakan rendahnya kesadaran orang tua untuk membaca bersama anaknya.
Anak memiliki akses untuk mencintai lingkungan dan makhluk hidup.
Anak yang sering bersentuhan dan berinteraksi dengan alam sekitarnya secara scientific mengurangi stres anak dan sangat membantu tumbuh kembangnya. Di Australia, akses untuk anak bermain outdoors tidak terhitung jumlahnya, pejalan kaki mendapat prioritas, encouragement untuk mencintai hewan, dan kebersihan tidak perlu ditanyakan lagi. Akses untuk mencintai lingkungan dan makhluk hidup lainnya dibuka sebesar-besarnya.
Ditambah lagi, banyaknya informasi-informasi bermanfaat dan banyak disosialisasikan di mana-mana seperti bermain dengan aman saat cuaca panas hingga 40 derajat (sunsmart), bertemu dengan hewan peliharaan seperti anjing di tempat terbuka (Responsibility Pet Ownership), dan masih banyak lagi. Buat kebanyakan parents di sini, selama cuaca tidak ekstrim, dan memakai appropriate clothes, bermain di luar adalah quality time dengan anak-anak.
Bagaimana dengan Indonesia? Edukasi anak untuk mencintai lingkungan dan makhluk hidup belum saya rasakan. Saya masih sering mendengar ucapan-ucapan seperti ‘’Di luar dingin nanti sakit” atau “Jangan pegang nanti kamu digigit” dan berbagai macam contoh kalimat lainnya yang memberikan pandangan negatif terhadap alam serta makhluk hidup lainnya.
Anak juga memiliki hak untuk didengar.
Kesetaraan, menghargai, dan menghormati pendapat maupun privacy orang lain adalah hal yang paling terasa di Australia. Suatu hari, saya ke sekolah TK anak saya dan diam beberapa lama di sana. Anak saya yang berumur 4 tahun saat itu sedang bermain balok dan terlihat menolak bermain dengan temannya dan bilang “I don’t want to play with you now!”. Tersentak saya mendatangi anak saya, dan bilang bahwa dia harus bermain dengan siapa saja tanpa pilih-pilih.
Dan apa yang saya dapat? Gurunya menghampiri saya dan bilang bahwa itu adalah salah satu cara anak untuk menjaga ruang dirinya dan anak berhak untuk memilih dengan siapa dia bermain. Ini merupakan proses belajar untuk mengungkapkan perasaannya, mengenali kebutuhan dirinya, dan anak yang ditolak bermain pun belajar untuk menerima. Kalau saja saya tidak diingatkan, bahwa anak memiliki hak untuk didengar, maka mungkin saya akan banyak memaksa anak untuk menuruti kehendak saya.
Masih banyak hal lainnya yang saya pelajari dari tukar pikiran sesama local parents di Australia yang tidak akan selesai dalam satu halaman website ini. Berita baiknya, saya berpendapat bahwa persepsi atau sudut pandang baru yang dimulai dari kacamata anak ini amat sangat applicable jika saya nantinya pulang ke tanah air. Selain lingkungan yang mendukung, persepsi orang tua tidak kalah pentingya ketika memberikan kesempatan sebesar-besarnya untuk anak menikmati masa kecilnya.
Pengalaman di Indonesia yang masih sering terdengar dengan banyak larangan “Jangan ini, jangan itu”, “harus ini, harus itu”, dan lain-lain secara tidak langsung membatasi ruang anak untuk bereksplorasi, untuk berpendapat dan menjadi anak yang independent. Bagaimana pengalamanmu?

Cara Tetap Dekat dengan Anak Walaupun Tugas Menumpuk

Ketika memutuskan untuk akhirnya mengambil beasiswa dan kembali bersekolah lagi menjadi student-mama, tidak bisa dipungkiri kalau ternyata waktu untuk bermain bersama anak jadi berkurang banget. Terus terang, kalau lagi duduk di karpet bermain bersama anak-anak ada saja kepikiran tugas dan hal-hal lain yang ingin dikerjakan.
Jangankan membuat prakarya-prakarya atau kerajinan tangan lucu dan cantik seperti yang membanjiri board pinterest saya, punya rumah yang rapih saja membutuhkan effort yang besar (karena tidak memungkinkan di sini untuk saya punya asisten rumah tangga alias mbak). Tetapi, usaha untuk tetap bermain dan belajar anak tetap ada. Saya selalu mencari celah untuk mendapatkan “teachable moment”.
Pertama kali dicetuskan oleh Robert Havighurst tahun 1952 sebagai salah satu teori di pendidikan, teachable moment tidak hanya seringkali terdengar dalam kurikulum pendidikan anak usia dini (early childhood education) tapi juga untuk berbagai macam konteks.
Yang saya pahami, teachable moment itu bersifat spontan, tidak terencana, sesuai dengan context (contextual) dan yang penting adalah pengulangan alias repetition dari guru, orang tua atau siapa saja yang capable untuk memberikan penjelasan.
Teachable moment menjadi ‘senjata’ saya sehari-hari dengan dua anak agar saya tetap banyak berinteraksi dikala saya tidak punya waktu ‘serius’ untuk bermain dengan anak-anak karena tugas yang menumpuk. Bagaimana caranya?
Ketika berbelanja di supermarket
Di supermarket banyak sekali yang bisa dijadikan teachable moments. Mulai dari mengenalkan anak berbagai macam nama, warna, jenis sayuran, buah, dan daging. Makanan yang sehat dan makanan yang boleh kadang-kadang (baca:coklat). Hingga, kenapa kita harus antri, membayar menggunakan kartu atau uang cash. Untuk sima yang masih 2 tahun, diskusi kami kira-kira seperti ini.
Sima: Mau, mama itu apa?
Me: Sima, mau lihat ikan?
Sima: mau, mama itu apa?
Me: itu gurita, kalau bahasa Inggrisnya Octopus.
Coba sima hitung kakinya? (saya bilang kaki karena saya tidak tahu arti dari tentacles hehe..)
Sima: 1..2..3..4..5..6..7..8… eighhhtt. It has 8 mom! (kadang-kadang sima menjawab dengan bahasa Inggris)
Mama: kalau ada hiu atau ikan besaaar yang mau makan gurita ini, si gurita langsung semprot tinta hitam ke ikannya, terus kabuuur.
Sima: apa itu tinta?
Mama: tinta itu seperti air yang hitaaam sekali.
Dan percakapan ini nggak hanya satu-dua kali, tapi terus berulang ketika dia melihat gambar octopus dan kontennya pun sudah bertambah tentang apa makanan octopus dan bagaimana dia mati setelah bereproduksi.
Ketika diperjalanan
Ketika sedang berjalan kaki atau menyetir di dalam mobil. Banyak sekali sign di jalan yang bisa kami bicarakan. Mulai dari apa itu lampu merah, belajar angka dan huruf, apa saja transportasi umum, di mana orang menunggu bus, alat-alat besar yang dipakai untuk membangun rumah, sampai topik yang abstrak seperti kenapa banyak orang yang memilih bersepeda.
Ketika di rumah
Terkadang cuaca yang ekstrim atau capeknya badan membuat saya hanya ingin di rumah saja. Tapi di rumah pun banyak sekali teachable moments yang bisa didapatkan. Intinya saya selalu berusaha mengajak mereka untuk melakukan aktifitas apa saja yang bisa mereka coba untuk lakukan dan jelaskan dengan sederhana apa tujuannya.
Untuk si sulung yang berumur 5 tahun pun tentu berbeda tingkat kompleksitasnya. Karena anak saya cukup tertarik untuk ikut masak, banyak yang bisa saya jelaskan, apa itu fungsi telur dalam kue, kenapa sebaiknya mengaduk adonan tepung perlahan dan sebagainya. Selain itu, sekarang juga sedang berusaha memahami kenapa sebaiknya membatasi penggunaan plastik, kenapa membedakan sampah basah dan daur ulang, juga pentingnya untuk selalu cuci tangan setelah bepergian dari luar rumah.
(psst, menjemur baju salah satu contoh paling mudah mengajarkan sains kepada anak, :p)
Untuk saya teachable moments membantu saya untuk tetap connected dengan anak-anak di sela-sela kesibukan kampus. Walaupun saya sering di rumah bersama mereka, tidak banyak waktu saya habiskan bermain bersama. Ini sudah saya lakukan sejak mereka bayi dan mulai bisa saya gendong ke mana saja.
Walaupun dikala itu mereka tidak merespon seperti sekarang, saya anggap itu merupakan latihan ibunya (baca:saya) untuk belajar mencari teachable moments. Sekarang mereka selalu datang dengan berbagai pertanyaan yang juga membantu saya terus belajar! And I love it! For me, teachable moment is so powerful and this is how they understand logic. It is also a big milestone in their development and comprehension of how the world works. Setuju?

Teknik Sederhana Ini Membuat Anak Ketagihan Membaca

Ilustrasi anak membaca.

Berbagai penelitian sudah membuktikan membaca untuk anak-anak merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan anak dalam bidang akademik maupun non-akademik. Hal ini yang mendorong saya selalu mencoba untuk membangun kebiasaan membaca untuk kedua anak saya.

Akhirnya sekarang membuat mereka tidak bisa tertidur jika belum membaca buku. Masih ingat ketika si sulung berumur tiga tahun dan ingin pindahan rumah di Jakarta, saya memiliki lebih dari 300 buku anak yang sehari-harinya dibaca berulang-ulang kali (seperti siap buka perpustakaan mini ya.. hehe).
Menurut saya, bagaikan sikat gigi sebelum tidur atau makan sehat bergizi, membaca buku salah satu hal yang juga tidak kalah pentingnya untuk anak-anak.
Membaca bersama anak tidak hanya sekedar membaca keras-habis-menutup buku (walaupun terkadang saya seperti itu karena sudah cape dan ngantuk banget). Belum lagi kalau satu buku diulang sampai berpuluh-puluh kali bosan banget sekali bacanya.
Dan tidak sedikit orang tua merasa clueless, seperti apa sih membaca untuk mendapatkan hasil yang optimal dan membuat anak ketagihan lagi dan lagi? Berikut mau sharing salah satu teknik membaca buku dengan anak-anak yang bikin mereka susah untuk berhenti untuk lagi dan lagi dan tentunya mendapat manfaat yang optimal dari kegiatan membaca ini.
Dialogic Reading
Tujuan dari teknik dari membaca ini hanyalah satu – membuat percakapan atau dialog dengan anak ketika membaca. Terbukti dari penelitian membuat membaca menjadi menyenangkan dan membuat anak hobi “melahap” satu-persatu bukunya dan juga efektif. Terdengar simple, teknik yang bisa banget untuk dicoba yaitu– PEER (Prompts.Evaluates.Expands.Repeat).
  • Prompts: membuat anak untuk mengatakan sesuatu.
  • Evaluates: evaluasi apa yang sudah dikatakan anak
  • Expands: memperluas kalimat atau maknanya
  • Repeat: mengulang kembali apa yang tadi sudah dikatakan di atas.
Singkatnya seperti gambar ini:
Terkadang untuk memulai PROMPT atau membuat anak untuk bicara pertama kali itu cukup susah, CROWD adalah tekhnik untuk membantu mengembangkan prompt sehingga anak terstimulasi untuk berbicara:
  • Completion Prompt: Anak melanjutkan kalimat.
  • Recall prompt: Ketika mengulang membaca buku, anak diajak mengingat kembali ceritanya (3-5 tahun).
  • Open-ended prompt: Bertanya berdasarkan gambar yang dilihat.
  • Wh- prompt: Bertanya sambal menunjuk gambar di buku.
  • Distancing prompt: Menghubungkan dengan gambar dan kehidupan si anak (3-5 tahun).

Singkatnya seperti gambar berikut:

Hampir tidak pernah saya mendengar efek negatif dalam membangun rutinitas membaca antara orang tua dan anak-anak. Dan berita baiknya, tidak ada usia terlalu muda ataupun terlambat untuk membaca. Membaca dengan anak bisa dimulai dari bayi sekalipun.
Selain itu menurut saya, membaca untuk anak itu bisa dibilang sama halnya seperti memberikan mereka makanan sehat. Hasilnya tidak akan terlihat dalam jangka pendek. Makanan yang sehat membantu mereka untuk tumbuh dengan baik, kecintaan membaca juga membantu mereka menemukan jati dirinya di masa depan. Bagaimana menurutmu?