Cara Orang Tua di Australia untuk Membuat Anak Happy

Ilustrasi anak belajar dan membaca.

Saya yakin keinginan untuk memiliki anak yang happy alias bahagia hampir dimiliki oleh semua orang tua. Tapi, pernah terpikir nggak sih apa yang sebenarnya membuat anak itu bahagia? Kenapa peringkat kesejahteraan anak-anak dan tingkat happiness di negara maju jauh lebih baik dari tanah air kita?
Baru satu tahun lebih tinggal di negara yang terkenal dengan kanggurunya atau Australia, saya banyak menyadari banyak hal yang bisa dicontoh dari apa yang dilakukan oleh orang tua di sini.
Salah satu insititusi penelitian bernama The Australian Research Alliance for Children and youth (ARACY) mempublikasikan hasil perbandingan negara Australia dengan 21 negara maju anggota OECD lainnya.
Hasil data tahun 2018 menunjukkan bahwa Australia merupakan peringkat pertama dengan jumlah waktu terbanyak yang dihabiskan oleh orang tua untuk anak-anaknya. Parental time with children memang sering disebut memiliki korelatif positif dalam perkembangan dan pertumbuhan anak-anak.
Namun, buat moms atau dads yang kerja apakah serta-merta berpikir untuk resign kerja saja mengurus anak? Tentu tidak. Menurut saya, banyaknya waktu dengan orang tua bukanlah penentu satu-satunya anak menjadi happy, pertanyaan yang lebih tepat adalah Apa yang orang tua di sini lakukan sehingga membuat anak happy?
Anak dibuat haus akan pengetahuan.
Keuntungan tinggal di negara maju adalah akses yang mudah mendapatkan pengetahuan. Perpustakaan merupakan salah satu contohnya. Banyaknya aktivitas gratis anak-anak setiap minggu seperti story telling, art&craft, lego group dan aktivtas dari bayi hingga dewasa lainnya. Anak dapat meminjam buku hingga 30 jilid dalam satu waktu.
Kesadaran orang tua untuk membacakan buku anak-anaknya sangat tinggi, bahkan disediakan sertifikat bagi yang sudah membaca 1000 buku sebelum 5 tahun. Program ini ditujukan untuk mengingatkan orang tua untuk membaca di rumah. Di Indonesia, seperti yang diberitakan bahwa minat membaca masih rendah dikarenakan rendahnya kesadaran orang tua untuk membaca bersama anaknya.
Anak memiliki akses untuk mencintai lingkungan dan makhluk hidup.
Anak yang sering bersentuhan dan berinteraksi dengan alam sekitarnya secara scientific mengurangi stres anak dan sangat membantu tumbuh kembangnya. Di Australia, akses untuk anak bermain outdoors tidak terhitung jumlahnya, pejalan kaki mendapat prioritas, encouragement untuk mencintai hewan, dan kebersihan tidak perlu ditanyakan lagi. Akses untuk mencintai lingkungan dan makhluk hidup lainnya dibuka sebesar-besarnya.
Ditambah lagi, banyaknya informasi-informasi bermanfaat dan banyak disosialisasikan di mana-mana seperti bermain dengan aman saat cuaca panas hingga 40 derajat (sunsmart), bertemu dengan hewan peliharaan seperti anjing di tempat terbuka (Responsibility Pet Ownership), dan masih banyak lagi. Buat kebanyakan parents di sini, selama cuaca tidak ekstrim, dan memakai appropriate clothes, bermain di luar adalah quality time dengan anak-anak.
Bagaimana dengan Indonesia? Edukasi anak untuk mencintai lingkungan dan makhluk hidup belum saya rasakan. Saya masih sering mendengar ucapan-ucapan seperti ‘’Di luar dingin nanti sakit” atau “Jangan pegang nanti kamu digigit” dan berbagai macam contoh kalimat lainnya yang memberikan pandangan negatif terhadap alam serta makhluk hidup lainnya.
Anak juga memiliki hak untuk didengar.
Kesetaraan, menghargai, dan menghormati pendapat maupun privacy orang lain adalah hal yang paling terasa di Australia. Suatu hari, saya ke sekolah TK anak saya dan diam beberapa lama di sana. Anak saya yang berumur 4 tahun saat itu sedang bermain balok dan terlihat menolak bermain dengan temannya dan bilang “I don’t want to play with you now!”. Tersentak saya mendatangi anak saya, dan bilang bahwa dia harus bermain dengan siapa saja tanpa pilih-pilih.
Dan apa yang saya dapat? Gurunya menghampiri saya dan bilang bahwa itu adalah salah satu cara anak untuk menjaga ruang dirinya dan anak berhak untuk memilih dengan siapa dia bermain. Ini merupakan proses belajar untuk mengungkapkan perasaannya, mengenali kebutuhan dirinya, dan anak yang ditolak bermain pun belajar untuk menerima. Kalau saja saya tidak diingatkan, bahwa anak memiliki hak untuk didengar, maka mungkin saya akan banyak memaksa anak untuk menuruti kehendak saya.
Masih banyak hal lainnya yang saya pelajari dari tukar pikiran sesama local parents di Australia yang tidak akan selesai dalam satu halaman website ini. Berita baiknya, saya berpendapat bahwa persepsi atau sudut pandang baru yang dimulai dari kacamata anak ini amat sangat applicable jika saya nantinya pulang ke tanah air. Selain lingkungan yang mendukung, persepsi orang tua tidak kalah pentingya ketika memberikan kesempatan sebesar-besarnya untuk anak menikmati masa kecilnya.
Pengalaman di Indonesia yang masih sering terdengar dengan banyak larangan “Jangan ini, jangan itu”, “harus ini, harus itu”, dan lain-lain secara tidak langsung membatasi ruang anak untuk bereksplorasi, untuk berpendapat dan menjadi anak yang independent. Bagaimana pengalamanmu?
Iklan

Cara Tetap Dekat dengan Anak Walaupun Tugas Menumpuk

Ketika memutuskan untuk akhirnya mengambil beasiswa dan kembali bersekolah lagi menjadi student-mama, tidak bisa dipungkiri kalau ternyata waktu untuk bermain bersama anak jadi berkurang banget. Terus terang, kalau lagi duduk di karpet bermain bersama anak-anak ada saja kepikiran tugas dan hal-hal lain yang ingin dikerjakan.
Jangankan membuat prakarya-prakarya atau kerajinan tangan lucu dan cantik seperti yang membanjiri board pinterest saya, punya rumah yang rapih saja membutuhkan effort yang besar (karena tidak memungkinkan di sini untuk saya punya asisten rumah tangga alias mbak). Tetapi, usaha untuk tetap bermain dan belajar anak tetap ada. Saya selalu mencari celah untuk mendapatkan “teachable moment”.
Pertama kali dicetuskan oleh Robert Havighurst tahun 1952 sebagai salah satu teori di pendidikan, teachable moment tidak hanya seringkali terdengar dalam kurikulum pendidikan anak usia dini (early childhood education) tapi juga untuk berbagai macam konteks.
Yang saya pahami, teachable moment itu bersifat spontan, tidak terencana, sesuai dengan context (contextual) dan yang penting adalah pengulangan alias repetition dari guru, orang tua atau siapa saja yang capable untuk memberikan penjelasan.
Teachable moment menjadi ‘senjata’ saya sehari-hari dengan dua anak agar saya tetap banyak berinteraksi dikala saya tidak punya waktu ‘serius’ untuk bermain dengan anak-anak karena tugas yang menumpuk. Bagaimana caranya?
Ketika berbelanja di supermarket
Di supermarket banyak sekali yang bisa dijadikan teachable moments. Mulai dari mengenalkan anak berbagai macam nama, warna, jenis sayuran, buah, dan daging. Makanan yang sehat dan makanan yang boleh kadang-kadang (baca:coklat). Hingga, kenapa kita harus antri, membayar menggunakan kartu atau uang cash. Untuk sima yang masih 2 tahun, diskusi kami kira-kira seperti ini.
Sima: Mau, mama itu apa?
Me: Sima, mau lihat ikan?
Sima: mau, mama itu apa?
Me: itu gurita, kalau bahasa Inggrisnya Octopus.
Coba sima hitung kakinya? (saya bilang kaki karena saya tidak tahu arti dari tentacles hehe..)
Sima: 1..2..3..4..5..6..7..8… eighhhtt. It has 8 mom! (kadang-kadang sima menjawab dengan bahasa Inggris)
Mama: kalau ada hiu atau ikan besaaar yang mau makan gurita ini, si gurita langsung semprot tinta hitam ke ikannya, terus kabuuur.
Sima: apa itu tinta?
Mama: tinta itu seperti air yang hitaaam sekali.
Dan percakapan ini nggak hanya satu-dua kali, tapi terus berulang ketika dia melihat gambar octopus dan kontennya pun sudah bertambah tentang apa makanan octopus dan bagaimana dia mati setelah bereproduksi.
Ketika diperjalanan
Ketika sedang berjalan kaki atau menyetir di dalam mobil. Banyak sekali sign di jalan yang bisa kami bicarakan. Mulai dari apa itu lampu merah, belajar angka dan huruf, apa saja transportasi umum, di mana orang menunggu bus, alat-alat besar yang dipakai untuk membangun rumah, sampai topik yang abstrak seperti kenapa banyak orang yang memilih bersepeda.
Ketika di rumah
Terkadang cuaca yang ekstrim atau capeknya badan membuat saya hanya ingin di rumah saja. Tapi di rumah pun banyak sekali teachable moments yang bisa didapatkan. Intinya saya selalu berusaha mengajak mereka untuk melakukan aktifitas apa saja yang bisa mereka coba untuk lakukan dan jelaskan dengan sederhana apa tujuannya.
Untuk si sulung yang berumur 5 tahun pun tentu berbeda tingkat kompleksitasnya. Karena anak saya cukup tertarik untuk ikut masak, banyak yang bisa saya jelaskan, apa itu fungsi telur dalam kue, kenapa sebaiknya mengaduk adonan tepung perlahan dan sebagainya. Selain itu, sekarang juga sedang berusaha memahami kenapa sebaiknya membatasi penggunaan plastik, kenapa membedakan sampah basah dan daur ulang, juga pentingnya untuk selalu cuci tangan setelah bepergian dari luar rumah.
(psst, menjemur baju salah satu contoh paling mudah mengajarkan sains kepada anak, :p)
Untuk saya teachable moments membantu saya untuk tetap connected dengan anak-anak di sela-sela kesibukan kampus. Walaupun saya sering di rumah bersama mereka, tidak banyak waktu saya habiskan bermain bersama. Ini sudah saya lakukan sejak mereka bayi dan mulai bisa saya gendong ke mana saja.
Walaupun dikala itu mereka tidak merespon seperti sekarang, saya anggap itu merupakan latihan ibunya (baca:saya) untuk belajar mencari teachable moments. Sekarang mereka selalu datang dengan berbagai pertanyaan yang juga membantu saya terus belajar! And I love it! For me, teachable moment is so powerful and this is how they understand logic. It is also a big milestone in their development and comprehension of how the world works. Setuju?

Teknik Sederhana Ini Membuat Anak Ketagihan Membaca

Ilustrasi anak membaca.

Berbagai penelitian sudah membuktikan membaca untuk anak-anak merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan anak dalam bidang akademik maupun non-akademik. Hal ini yang mendorong saya selalu mencoba untuk membangun kebiasaan membaca untuk kedua anak saya.

Akhirnya sekarang membuat mereka tidak bisa tertidur jika belum membaca buku. Masih ingat ketika si sulung berumur tiga tahun dan ingin pindahan rumah di Jakarta, saya memiliki lebih dari 300 buku anak yang sehari-harinya dibaca berulang-ulang kali (seperti siap buka perpustakaan mini ya.. hehe).
Menurut saya, bagaikan sikat gigi sebelum tidur atau makan sehat bergizi, membaca buku salah satu hal yang juga tidak kalah pentingnya untuk anak-anak.
Membaca bersama anak tidak hanya sekedar membaca keras-habis-menutup buku (walaupun terkadang saya seperti itu karena sudah cape dan ngantuk banget). Belum lagi kalau satu buku diulang sampai berpuluh-puluh kali bosan banget sekali bacanya.
Dan tidak sedikit orang tua merasa clueless, seperti apa sih membaca untuk mendapatkan hasil yang optimal dan membuat anak ketagihan lagi dan lagi? Berikut mau sharing salah satu teknik membaca buku dengan anak-anak yang bikin mereka susah untuk berhenti untuk lagi dan lagi dan tentunya mendapat manfaat yang optimal dari kegiatan membaca ini.
Dialogic Reading
Tujuan dari teknik dari membaca ini hanyalah satu – membuat percakapan atau dialog dengan anak ketika membaca. Terbukti dari penelitian membuat membaca menjadi menyenangkan dan membuat anak hobi “melahap” satu-persatu bukunya dan juga efektif. Terdengar simple, teknik yang bisa banget untuk dicoba yaitu– PEER (Prompts.Evaluates.Expands.Repeat).
  • Prompts: membuat anak untuk mengatakan sesuatu.
  • Evaluates: evaluasi apa yang sudah dikatakan anak
  • Expands: memperluas kalimat atau maknanya
  • Repeat: mengulang kembali apa yang tadi sudah dikatakan di atas.
Singkatnya seperti gambar ini:
Terkadang untuk memulai PROMPT atau membuat anak untuk bicara pertama kali itu cukup susah, CROWD adalah tekhnik untuk membantu mengembangkan prompt sehingga anak terstimulasi untuk berbicara:
  • Completion Prompt: Anak melanjutkan kalimat.
  • Recall prompt: Ketika mengulang membaca buku, anak diajak mengingat kembali ceritanya (3-5 tahun).
  • Open-ended prompt: Bertanya berdasarkan gambar yang dilihat.
  • Wh- prompt: Bertanya sambal menunjuk gambar di buku.
  • Distancing prompt: Menghubungkan dengan gambar dan kehidupan si anak (3-5 tahun).

Singkatnya seperti gambar berikut:

Hampir tidak pernah saya mendengar efek negatif dalam membangun rutinitas membaca antara orang tua dan anak-anak. Dan berita baiknya, tidak ada usia terlalu muda ataupun terlambat untuk membaca. Membaca dengan anak bisa dimulai dari bayi sekalipun.
Selain itu menurut saya, membaca untuk anak itu bisa dibilang sama halnya seperti memberikan mereka makanan sehat. Hasilnya tidak akan terlihat dalam jangka pendek. Makanan yang sehat membantu mereka untuk tumbuh dengan baik, kecintaan membaca juga membantu mereka menemukan jati dirinya di masa depan. Bagaimana menurutmu?

 

Free leech filehosts rapidgator, uploaded, filejoker, nitroflare and etc

Hasil gambar untuk rapidgatorHasil gambar untuk filejokerHasil gambar untuk nitroflareHasil gambar untuk uploaded

 

Support hosts:

Fshare.vn, 4share.vn, Uploaded.net, Yunfile.com, Katfile.com, Depositfiles.com, Filefactory.com, 4shared.com, 1fichier.com, Uptobox.com, Wushare.com, Filesflash.com, Userscloud.com, Mega.co.nz, Sendspace.com, Share-online.biz, Openload.co, Dailyuploads.net, Oboom.com, Isra.cloud , Extmatrix.com, Uploadgig.com, Filejoker.net, Depfile.com, Nitroflare.com, Rapidgator.net, Novafile.com, Turbobit.net, Filenext.com, Alfafile.net, Prefiles.com, Filespace.com, Hitfile.net, Ex-load.com, Hotlink.cc, Takefile.link, Wdupload.com, Icerbox.com

Post your link in comment and put your email, i will send some site leeching file in your email.

ONLY LEECH 1 GB ONE DAY

 

 

 

Heboh Perkalian dan Penjumlahan Berulang

H Gunawan's Blog

Dalam beberapa hari ini, di media sosial ada kehebohan soal perkalian dan penjumlahan berulang. Anak Kelas 2 SD diminta mengerjakan soal penjumlahan berulang dengan cara menuliskannya terlebih dahulu sebagai bentuk perkalian, sebelum menuliskan jawabannya. Si anak menulis: 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = 4 x 6 = 24, dan oleh gurunya ia pun disalahkan. Gurunya menulis bahwa penjumlahan berulang tersebut seharusnya adalah 6 x 4, bukan 4 x 6. Bagaimana sebetulnya, atau mungkin sebaiknya?

Baca selengkapnya pendapat saya tentang hal ini di sini –> Heboh Perkalian dan Penjumlahan Berulang atau, versi panjangnya –> Heboh 4×6 vs 6×4 (dimuat di Kompas, 30-09-2014).

Baca juga pendapat Prof. Liek Wilardjo di sini –> Matematika – Proses dan Hasil

H. Gunawan, 23-09-2014

Lihat pos aslinya