Buku untuk seorang peneliti

Buku untuk seorang peneliti :

1. Penulisan Artikel Ilmiah.
2. Proposal Hibah Riset Dari Ide Hingga Didanai
3. Prosedur Penyelenggaraan Konferensi Internasional

bisa di “download” di

https://lumbung.cs.ui.ac.id/d/70feccff0b/

Iklan

Murmurs of Earth: The Voyager Interstellar Record

Murmurs of Earth: The Voyager Interstellar Record

by Carl Sagan
Published: July 1, 1978 | English | ISBN-10: 0345315367 | ePUB | 273 pages | 20.51 MB

In 1977, two extraordinary spacecraft called Voyager were launched to the stars. Affixed to each Voyager craft was a gold-coated copped phonograph record as a message to possible extra-terrestrial civilizations that might encounter the spacecraft in some distant space and time.

Each record contained 118 photographs of our planet; almost 90 minutes of the world’s greatest music; an evolutionary audio essay on “The Sounds of Earth”; and greetings in almost sixty human languages (and one whale language). This book is an account, written by those chiefly responsible for the contents of the Voyager Record, of why they did it, how they selected the repertoire, and precisely what the record contains.

DOWNLOAD:

ePub: https://s.id/25Qj3

Pdf: https://s.id/25QkP

 

Network Cell Info v4.15

Network Cell Info v4.15

Requirements: Android 4.0+ | File size: 2,9 MB

Network Cell Info provides cell locations in the map and separate network signal strength gauges for the serving (registered) cell and the neighbor cell. It covers all cellular networks including LTE, HSPA+, HSPA, WCDMA, EDGE, GSM, CDMA, EVDO.


FEATURES:
· Almost Real-Time (1 sec.) monitoring of cellular and WiFi signals, in Gauge/Raw Tabs (*)
· GSM, CDMA, UMTS (WCDMA), IWLAN, LTE, LTE+ support
· Dual SIM support (*)
· 5/6 Signal-meter gauges for both SIMs and WiFi (*)
· Signal Plots, up to 6 cells
· EARFCN, Carrier Frequency (Fc), Band number/name show (Logs only in PRO) (**)
· SIM# preference option, for other than Gauge tab
· Map with network cellular info and signal-meter gauges
· Logs, Measurements of cellular signals (in the Map tab)
· Indication of cell locations (not cell towers) in the Map, from Mozilla Location Service (MLS), excl. cdma (*)
· Route coloring (in the Map) according to the signal strength, and map markers with location and signal info
· Measurements in Background
· Measurements settings (minimum distance, minimum accuracy, motion sensor, etc.)
· Database export measurements in KML 2.2, MLS Geosubmit v.2, CLF v.3, OpenCellID csv, CMWF database types
· Network information in Status Bar
· Sound notifications (on system, cell id changes)
· Raw view of network cellular info
· Connection statistics (2G/2.5G/3G/3.5G/4G/4G+)
· SIM and device info
· Screen rotation

PHONE ISSUES:
· Please check here for current issues, especially for Samsung devices: http://goo.gl/Hy0dx5 . Please feel free to email us any issue.

GPS:
· It is recommended to set the GPS mode to “high accuracy” in the location settings of your device.

MAP CELL TOWER LOCATION:
· We don’t have own database for cell locations. We use currently the MLS database (please see below) which returns not the actual cell tower location, but roughly an indication of the cell locations.

MLS:
· The LTE, UMTS and GSM cell locations we get from Mozilla Location Service (MLS) – http://location.services.mozilla.com – and show in the map as antennas, are not real tower locations, but roughly an indication of the cell locations (if no cell location is shown in the map, it means MLS has no data for your cell).
· MLS doesn’t support CDMA any more.
· If the app doesn’t return cell locations, or if you want to contribute/update the cell locations, you may use Mozilla Stumbler app ( https://goo.gl/sysSNQ ) to update the MLS database in your area.

MEASUREMENTS’ DATABASES:
· The measurements you make in the MAP tab, can be saved locally in your device (please see FAQ inside the app for details) in one of the following 4 formats: CMWF v.1 (our own), OpenCellID csv, CLF v.3 and our legacy one.

DOWNLOAD: https://s.id/25BeK

Pelajaran Berharga dari Toko Barang Bekas di Australia

Tingginya biaya hidup di Australia membuat banyak mahasiswa plus ibu rumah tangga dengan anak balita seperti saya harus pintar-pintar mengatur pengeluaran uang.

Berdasarkan laman website ini, harga-harga seperti makanan restoran dan sewa rumah di Australia 300% lebih tinggi dari Jakarta. Ditambah lagi, kebutuhan sehari-hari harganya juga berkali lipat dari di Jakarta. Mudah sekali bikin bangkrut jika tidak berhati-hati mengeluarkan uang.
Toko bekas memang bukan sesuatu yang baru. Di Jakarta saya pernah mendatangi toko buku bekas di Kwitang, pasar barang bekas di Poncol, atau toko antik di jalan Surabaya, yang katanya cukup didatangi banyak turis. Terus terang, tidak ada di antaranya yang berkesan.
Hal berbeda saya temukan di Melbourne, Australia. Toko barang bekas di Melbourne memberikan banyak pembelajaran. Bukan hanya sekedar untuk mendapatkan barang dengan harga murah. Lebih dari itu.
Apa saja yang pembelajaran yang di dapat dari toko bekas (Opportunity Shop disingkat menjadi Op Shop)?
1. Meluangkan waktu untuk membangun komunitas
Pegawai yang pada umumnya adalah lansia menggunakan waktu luangnya untuk menjadi sukarelawan di berbagai Op Shop di Australia. Kebanyakan dari mereka menjadi sukarelawan kurang lebih empat jam sehari tanpa dibayar satu sen pun.
Dari beberapa ‘nenek atau kakek’ (asumsi saya mereka di atas 70 tahun) yang pernah berbicara dengan saya, mereka mengutarakan merasa senang saat menjadi sukarelawan.

Beberapa manfaat yang mereka peroleh, antara lain bisa menambah teman, berbagi pengalaman dengan teman sukarelawan lain, belajar tentang proses retail seperti toko pada umumnya, dan juga berkontibusi untuk berdonasi dari hasil jualannya.

Hasil-hasil penjualan barang bekas ini pun kemudian disalurkan ke berbagai tempat, seperti rehabilitasi orang untuk berhenti dari narkoba dan alkohol, para tunawisma, korban kekerasan yang banyak dialami wanita dan anak-anak, keluarga dan pensiunan tantara dan pemberian keterampilan untuk difabel, dan masih banyak lagi.

Dengan menjadi sukarelawan di Op Shop, ada rasa memiliki dan kontribusi kepada komunitasnya, dan itu bernilai sangat tinggi.
(Foto pribadi dengan izin untuk publikasi)
2. Belajar menyayangi barang yang sudah dimiliki untuk membantu orang lain
Tidak ada hentinya saya membayangkan berapa ratus dolar yang bisa saya hemat ketika memilih untuk berbelanja di Op Shop. Barang yang dijual bukanlah barang yang sudah rusak, tapi barang yang masih tersimpan rapi, bersih, dan tentunya layak pakai.
Favorit saya adalah membeli buku anak dan buku untuk saya. Buku-buku di Op Shop sangatlah banyak dan bagus-bagus. Murahnya buku dengan harga mulai 50 sen sampai sekitar $3 dengan pilihan yang beragam, membuat akses membaca dan memiliki pengetahuan baru semakin mudah.
Betapa kagetnya saya ketika membeli buku anak dengan tulisan tahun dari sebelum saya lahir namun masih bagus sekali dan layak dibaca. Begitu juga dengan mainan. Mainan masih sangat tersimpan rapi dan layak pakai dengan harga mulai $1. Dengan berdonasi, bisa membuat anak-anak, apalagi orang tuanya yang bisa banyak menghemat.
(Salah satu notes di buku anak yang saya beli di toko bekas, bukunya lebih tua daripada saya!)
3. Menggunakan ulang barang bekas terbukti ikut membantu melestarikan lingkungan
Kampanye reduce,reuse,recycle untuk melestarikan flora dan fauna sangat terasa di Australia. Dimulai dari ketatnya pemeriksaan di bandara saat memasuki kota-kota di Australia, larangan memberikan makanan manusia seperti roti kepada hewan liar di tempat umum, membawa sampah pulang ke rumah, dan berbagai macam lainnya.
Tentu saja recycle atau daur ulang bukan lagi hal asing yang terdengar di mana-mana termasuk sekolah-sekolah sekalipun. Membeli barang di Op Shop artinya ikut mengurangi penggunaan material baru atau bahan kimia lainnya. Sebagai contoh, dengan membeli mainan anak di Op Shop artinya kita mengurangi penggunaan plastik baru yang dijadikan sebagai material mainan tersebut. Begitu juga buku dan barang-barang lainnya.
Toko barang bekas di Jakarta mungkin tidak senyaman dan tidak memiliki misi sebesar toko bekas di Australia. Namun, di bulan Ramadan seperti sekarang, kita juga bisa mulai belajar berdonasi pada orang-orang membutuhkan.
Jika berdonasi sudah terbiasa dilakukan di suatu komunitas, maka tidak perlu toko bekas yang nyaman dan ber-AC untuk dapat berkontribusi pada society. Sebab, menyayangi dan menjaga barang-barang untuk didonasikan juga melestarikan lingkungan.

 

Sisi Lain Kehidupan Sebagai Ibu Rumah Tangga

Di artikel pertama, saya bercerita bagaimana saya melihat perbedaan parenting style Australia dan tanah air, Indonesia. Ketika menulis artikel itu, membuat saya flashback 6 tahun lalu kala saya memulai parenting journey sebagai seorang ibu. Ketika akan melahirkan anak pertama, saya (didukung suami tentunya) memutuskan untuk berhenti bekerja full time dan menjadi stay-at-home-mom¬ alias ibu rumah tangga yang ‘di rumah aja’.
Saya pernah membaca beberapa cerita bagaimana sedihnya ibu bekerja (working moms) yang meninggalkan anaknya yang masih kecil di pagi-pagi buta dan pulang di malam gelap gulita, ataupun Ibu rumah tangga (stay-at-home-moms) yang di rumah mengurus anak saja dan merasa ‘tertekan’ dan juga dicibir karena merasa tidak ‘sehebat’ teman-teman perempuannya yang bekerja dan berkarir seperti pengalaman ibu yang dibahas di laman ini. Begitulah, rumput tetangga selalu lebih hijau, bukan?
Setelah banyak membaca ini-itu, saya sadar bahwa yang membuat saya sebagai salah satu stay-at-home-moms merasa ‘frustasi’ pada awalnya bukanlah hanya ingin Adult Conversation atau berkarir di perkantoran, tapi merasa diri yang tidak punya Self-Actualization, alias merasa diri tidak update dengan apapun. Lalu, kenapa akhirnya saya memutuskan untuk kembali berkuliah? Berikut sedikit sharing bagaimana akhirnya memutuskan untuk sementara meninggalkan Indonesia dan berkuliah kembali.
1. Kembali Belajar Bahasa Inggris.
Menurut kacamata saya, dengan belajar bahasa asing seperti bahasa Inggris, semakin banyak buku yang bisa dibaca, semakin banyak orang yang bisa diajak berbicara, semakin banyak ilmu yang bisa diserap, dan semakin banyak kesempatan yang bisa digapai. Itu salah satu yang selalu saya ingat ketika saya memutuskan belajar bahasa Inggris lagi.
Tentu saja berbekal pelajaran bahasa Inggris dari SD-SMA tidak cukup untuk saya menyelesaikan online course dari Stanford University melalui Coursera gratis dari rumah (keren kan ibu yang di rumah saja, dasteran, bisa dapat belajar dari professor universitas kelas dunia).
Saya mulai dari yang basic dari sumber seperti BBC English dan memaksakan membaca artikel tentang parenting dalam bahasa Inggris. Alhasil, ketika mengambil tes IELTS, saya mendapat nilai tinggi dalam reading karena tidak disadari saya sudah terbiasa membaca sumber berbahasa Inggris
2. Mencari Inspirasi
Tentu saja inspirasi bisa dari mana saja. Nenek, tante, orang tua, suami, mertua, kakak dan adik, teman bahkan anak-anak saya menjadi sumber inspirasi saya. Tetapi, ketika saya sudah mulai terbiasa dengan bahasa Inggris, semakin banyak kesempatan saya untuk mendapatkan inspirasi terutama dari orang-orang yang jauh di sana.
Contohnya, saya mendapatkan inspirasi dari Jamie Oliver bagaimana pentingnya anak belajar makan makanan sehat, bagaimana cara me- manage waktu dari beberapa pembicara TED seperti salah satunya Laura Vanderkam, beberapa buku dan blogger tentang parenting seperti Alice Callahan, Gwen Dewar, dan Dr. Laura Markham dan masih banyak lainnya. Membaca tentang bagaimana mereka berpendapat dan belajar, membuat saya terinspirasi dan merasa memiliki kesempatan untuk meng-update diri sendiri. I feel challenged and inspired.
3. Membuat Keputusan
Ketika akhirnya banyak ‘bersemedi’ saya akhirnya memutuskan untuk kembali sekolah karena itulah yang ternyata membuat saya bisa to live life to the fullest. Konsep lifelong learning membuat saya merasa lebih utuh bukan hanya sebagai ibu tapi juga perempuan.
Kalau ada yang bertanya, ‘belajar kan bisa di mana saja? Enggak harus kampus!’, itu betul banget. Tapi saya masih kurang disiplin untuk bisa mengatur apa yang harus saya pelajari. Institusi formal bisa membantu untuk menutup kekurangan itu. Dan masih banyak kekurangan lainnya yang saya punya. Akhirnya, berbekal pengalaman pas-pasan, saya nekad mendaftar beasiswa untuk bisa berkuliah lagi.
Keputusan ini tentu bukan sebuah akhir, tapi merupakan proses dari hidup saya, karena masih banyak masalah-masalah hidup lainnya yang membutuhkan proses sebelum membuat keputusan. Dan… jangan lupa harus diputuskan bersama – terutama bersama suami dan dua bocil (baca: anak)-. Fiuuh.. Terlebih saya harus terpisah sementara dengan suami, dan menjalankan kuliah dengan anak-anak saja.
Setiap orang punya kisah yang berbeda, situasi dan tujuan yang tidak sama. Yang penting untuk saya bukan akhirnya bagaimana, tetapi juga proses yang saya nikmati. I just think the quality of my life has greatly improved and I feel happy.
Moral story untuk saya: Jangan sekali-kali membandingkan dengan orang lain, jika iya, yang ada saya ‘nangis bombay’ di sini karena banyak sekali yang muda-belia dan punya achievement yang bikin saya terheran-heran. Mereka hebat banget!!!
Seperti yang professor saya tanyakan di salah satu kuliah di unit tatap muka, “How long did you take to get here?”, jawaban dan pemahaman pun bervariasi. Sebagian menjawab 1 jam, 15 menit, ada juga yang menjawab 25 tahun, 30 tahun, dan sang professor menjawab “I spent a bit over 40 years to get here.”
Apa jawabanmu? Dan apa yang membuat hidupmu lebih berwarna?